- Berita
- Strategi Konservasi Berbasis Masyarakat sebagai Mitigasi Banjir Musiman di Wilayah Penyangga Taman Nasional Meru Betiri
Strategi Konservasi Berbasis Masyarakat sebagai Mitigasi Banjir Musiman di Wilayah Penyangga Taman Nasional Meru Betiri
Habilis, 24/01/2026 11:24 WIB
Jember - Kamis, 11 Desember 2025. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) mengenai strategi konservasi berbasis masyarakat digelar sebagai upaya mitigasi banjir musiman di wilayah penyangga kawasan konservasi. Acara ini berlangsung di Desa Wonoasri, Kabupaten Tempurejo, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Forum diskusi ini menjadi ruang dialog terbuka antara masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan pengelola kawasan konservasi. Permasalahan banjir musiman yang kerap terjadi menjadi latar belakang utama pelaksanaan kegiatan ini. Melalui FGD, peserta diajak untuk mengidentifikasi penyebab banjir sekaligus merumuskan solusi berbasis kearifan lokal. Diskusi berjalan interaktif dengan partisipasi aktif dari warga desa setempat. Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
FGD
ini merupakan bentuk sinergi antara Yayasan Habilis Indonesia Madani bersama
pihak Taman Nasional Meru Betiri. Kolaborasi tersebut menegaskan pentingnya
peran masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan penyangga.
Kehadiran berbagai unsur menunjukkan komitmen bersama dalam upaya pelestarian
lingkungan. Forum ini juga menjadi sarana memperkuat komunikasi antara
pengelola taman nasional dan masyarakat sekitar. Isu konservasi tidak hanya
dibahas dari sisi teknis, tetapi juga dari aspek sosial dan ekonomi warga.
Pendekatan partisipatif dinilai mampu meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat
terhadap lingkungan. Dengan demikian, upaya mitigasi bencana dapat dilakukan
secara kolektif dan berkelanjutan.
Ketua
Yayasan Habilis Indonesia Madani, Arif, S.Sos., M.AP, menekankan bahwa
konservasi tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan masyarakat. Ia menyampaikan
bahwa masyarakat merupakan aktor utama yang berinteraksi langsung dengan
lingkungan sehari-hari. “Konservasi berbasis masyarakat adalah kunci utama
untuk mencegah banjir musiman yang terus berulang,” ujarnya pada Kamis
(11/12/1015). Menurutnya, perubahan perilaku dalam pengelolaan lahan dan sumber
daya air sangat menentukan keberhasilan mitigasi. Ia juga menegaskan pentingnya
edukasi lingkungan yang berkelanjutan bagi warga desa. Yayasan Habilis
Indonesia Madani berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam proses
tersebut. Pendampingan ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara
kebutuhan ekonomi dan kelestarian alam.
Perwakilan dari Taman Nasional Meru Betiri, Bapak Ali Purwanto, turut menyampaikan pandangannya dalam forum tersebut. Ia menyebut bahwa wilayah penyangga memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem taman nasional. “Jika wilayah penyangga dikelola dengan baik oleh masyarakat, maka kawasan inti taman nasional juga akan terlindungi,” ungkap Ali Purwanto pada Kamis (11/12/1015). Ia menambahkan bahwa banjir musiman merupakan indikator adanya tekanan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, upaya mitigasi harus dilakukan sejak dari tingkat desa. Pihak taman nasional siap mendukung program konservasi yang melibatkan masyarakat secara aktif. Sinergi lintas lembaga dianggap sebagai langkah efektif dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Salah satu warga Desa Wonoasri yang mengikuti FGD, Sumarno, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Ia merasa dilibatkan secara langsung dalam pembahasan masalah lingkungan di desanya. “Selama ini kami hanya merasakan dampaknya, tapi jarang diajak berdiskusi untuk mencari solusi,” kata Sumarno. Menurutnya, FGD ini membuka wawasan baru tentang pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Ia juga menyadari bahwa tindakan kecil masyarakat dapat berdampak besar terhadap pencegahan banjir. Sumarno berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin. Dengan demikian, kesadaran masyarakat terhadap konservasi dapat terus meningkat.
Melalui kegiatan FGD ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara masyarakat dan pemangku kepentingan. Sinergi antara Yayasan Habilis Indonesia Madani dan Taman Nasional Meru Betiri menjadi contoh kolaborasi yang konstruktif. Upaya mitigasi banjir musiman membutuhkan kerja sama jangka panjang dan konsisten. Masyarakat desa diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayah penyangga. Dengan dukungan berbagai pihak, konservasi berbasis masyarakat dapat berjalan efektif. Forum ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Ke depan, hasil FGD diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.

Komentar (0)
Tinggalkan Komentar