- Berita
- Trip Education Mahasiswa Dorong Peran Aktif Generasi Muda dalam Pencapaian SDGs
Trip Education Mahasiswa Dorong Peran Aktif Generasi Muda dalam Pencapaian SDGs
Habilis, 24/01/2026 11:31 WIB
Jember - Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan Trip Education Mahasiswa di Pusat Kampung SDGs Indonesia menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam memahami implementasi pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini mengusung tema “Integrasi Ilmu dan Praktik Lapangan, Peran Mahasiswa dalam Akselerasi Program SDGs”. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Sekretariat Pusat Pengembangan Kampung SDGs Indonesia (PPKSI). Lokasi kegiatan berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran langsung di luar ruang kelas. Mahasiswa diajak untuk melihat praktik nyata penerapan SDGs di tingkat desa. Pendekatan lapangan ini dinilai mampu memperkaya perspektif akademik mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini mendorong mahasiswa agar lebih peka terhadap isu pembangunan berkelanjutan.
Trip Education ini merupakan
kegiatan yang bersinergi dengan Yayasan Habilis Indonesia Madani. Sinergi
tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung penguatan peran mahasiswa
dalam pembangunan desa. Kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi antara dunia
akademik, lembaga sosial, dan pengelola kawasan konservasi. Hadir dalam
kegiatan ini Ketua Yayasan Habilis Indonesia Madani, Arif, S.Sos., M.AP. Turut
hadir pula Pembina PPKSI, KH. M. Misbahus Salam, M.Pd.I. Selain itu, kegiatan
ini dihadiri oleh Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Bapak Ali Purwanto, S.Hut.,
M.Sc. Kehadiran para tokoh tersebut memberikan penguatan substansi dan nilai
strategis kegiatan. Dialog yang terbangun berlangsung interaktif dan
inspiratif.
Ketua Yayasan Habilis Indonesia
Madani, Arif, S.Sos., M.AP, menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa secara
langsung di lapangan. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya belajar
di ruang kelas. “Mahasiswa tidak hanya berada di kampus, tetapi juga harus
dekat dengan lapangan, belajar langsung dari masyarakat, dan memperbanyak
praktik,” ujar Arif. Menurutnya, integrasi teori dan praktik merupakan kunci
dalam mewujudkan capaian SDGs. Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa harus
memiliki kepekaan terhadap isu-isu lingkungan. “Untuk mendukung SDGs, mahasiswa
harus mengikuti perkembangan isu lingkungan dan terus memperbarui pengetahuannya,”
tambahnya. Arif menilai peran mahasiswa sangat strategis sebagai agen
perubahan. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual perlu terus diperkuat.
Sementara itu, Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Bapak Ali Purwanto, S.Hut., M.Sc, menyoroti pentingnya kesadaran ekologis dalam pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kelestarian alam. “Kita bernapas menggunakan oksigen, dan oksigen tersebut dihasilkan oleh tumbuhan,” ujar Ali Purwanto. Ia mengingatkan bahwa hutan dan lingkungan bukan hanya sumber daya, tetapi juga penopang kehidupan. Menurutnya, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada kualitas hidup manusia. Ia juga mengajak mahasiswa untuk memahami peran kawasan konservasi dalam mendukung SDGs. Kesadaran ini dinilai penting sejak dini. Mahasiswa diharapkan menjadi generasi yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Pembina PPKSI, KH. M. Misbahus Salam, M.Pd.I, menyampaikan bahwa SDGs harus dipahami sebagai gerakan moral dan sosial. Ia menilai pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang target, tetapi juga tentang nilai dan kebermanfaatan. “SDGs adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integritas dan keikhlasan dalam menjalankan program pembangunan. Pendidikan, menurutnya, harus melahirkan insan yang peduli dan bertanggung jawab. Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lapangan seperti ini. Hal tersebut dinilai sebagai bentuk pembelajaran yang utuh.
Selama kegiatan berlangsung,
mahasiswa diajak mengenal berbagai program yang dijalankan oleh PPKSI.
Program-program tersebut mencakup pengembangan desa berbasis SDGs. Mahasiswa
mendapatkan penjelasan mengenai praktik pemberdayaan masyarakat yang telah
dilakukan. Selain itu, mahasiswa juga berdiskusi langsung dengan pengelola
kampung SDGs. Interaksi ini membuka ruang bertukar gagasan dan pengalaman.
Mahasiswa dapat melihat tantangan dan peluang dalam implementasi SDGs di
tingkat desa. Pembelajaran ini memberikan gambaran nyata tentang dinamika
pembangunan berkelanjutan. Kegiatan lapangan ini dinilai mampu meningkatkan
pemahaman kritis mahasiswa. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi
mahasiswa ke depan.

Komentar (0)
Tinggalkan Komentar