• Beranda
  • Berita
  • Ragam Aktivitas
  • Lembaga
    • Habilis Rehabilitation Centre
      • Profile Lembaga
      • Ruang Lingkup
      • Formulir Pendaftaran
      • Tentang Kami
    • Jember Research Development Center
      • Profile Lembaga
      • Ruang Lingkup
      • Tentang Kami
    • Lembaga Bantuan Hukum
      • Profile Lembaga
      • Program Layanan
      • Formulir Pendaftaran
      • Informasi Produk Hukum
      • Keuntungan
      • Tentang Kami
    • Habilis Tredpaction Centre
      • Profile Lembaga
      • Program Layanan
      • Program Pemberdayaan
      • List Paket Training
      • Tentang Kami
    • Madani Business Centre
      • Profile Lembaga
      • Produk Hasil Pemberdayaan
      • List Produk
      • Info Pemesanan
      • Tentang Kami
  • Tentang Kami
    • Profile Yayasan
    • Kerja Sama
    • Fasilitas
  • Indonesia
    • English
Login
  1. Berita
  2. Diskusi FOLU Net Sink dan SDGs sebagai Upaya Mendorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Diskusi FOLU Net Sink dan SDGs sebagai Upaya Mendorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Habilis, 24/01/2026 11:58 WIB

Jakarta - Jum'at, 19 Desember 2015. Kegiatan pemaparan terkait FOLU Net Sink dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dilaksanakan di Kementerian Kehutanan pada Jumat, 19 Desember 2025. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta dan menjadi ruang diskusi strategis terkait isu kehutanan dan perubahan iklim. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Yayasan Habilis Indonesia Madani, Arif, S.Sos., M.AP. Selain itu, turut hadir Pembina PPKSI KH. Misbahus Salam, M.Pd.I. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ali Purwanto, S.Hut., M.Sc dari Taman Nasional Meru Betiri Jember. Pemaparan dan diskusi dilakukan bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan. Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif. Seluruh pihak yang hadir terlibat aktif dalam pembahasan.


FOLU Net Sink merupakan salah satu agenda strategis nasional dalam sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Konsep ini menargetkan kondisi di mana sektor kehutanan mampu menyerap emisi karbon lebih besar dibandingkan emisi yang dilepaskan. Target pencapaian FOLU Net Sink ditetapkan pada tahun 2030. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. Selain itu, FOLU Net Sink juga mendukung target Net Zero Emission tahun 2060. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Pencegahan deforestasi dan degradasi hutan menjadi perhatian utama. Restorasi dan reforestasi turut menjadi bagian dari strategi tersebut.

Dalam kegiatan ini, sejumlah program utama disampaikan sebagai bagian dari upaya mendukung FOLU Net Sink. Program pertama adalah pemetaan baseline kondisi sosial, ekonomi, dan lahan di desa penyangga. Pemetaan ini menjadi dasar perencanaan program berbasis kondisi lokal. Program kedua adalah pembentukan Multi Stakeholder Forum (MSF). Forum ini dirancang sebagai wadah koordinasi dan komitmen bersama. Program selanjutnya adalah rehabilitasi lahan kritis berbasis masyarakat. Pendekatan partisipatif menjadi prinsip utama dalam pelaksanaannya. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program. Seluruh program disusun secara terintegrasi.

Program lainnya yang disampaikan adalah pengembangan agroforestri berbasis masyarakat. Pengembangan ini menggunakan pendekatan tiga jenis tanaman. Pendekatan tersebut dirancang untuk mendukung aspek ekologi dan ekonomi masyarakat. Selain itu, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat juga menjadi bagian dari program. Pengembangan ekowisata dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung. Program ini diarahkan untuk membuka peluang ekonomi alternatif bagi masyarakat sekitar hutan. Keberlanjutan program menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan lokal menjadi bagian dari strategi pelaksanaan.

Ketua Yayasan Habilis Indonesia Madani, Arif, S.Sos., M.AP, menyampaikan pandangannya terkait kegiatan tersebut. Ia menilai diskusi ini menjadi ruang penting untuk menyelaraskan peran masyarakat dengan kebijakan kehutanan nasional. Menurutnya, pendekatan berbasis sosial sangat dibutuhkan dalam agenda lingkungan. Arif menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat desa penyangga. Ia juga menyoroti peran kelembagaan lokal dalam menjaga keberlanjutan program. “Kegiatan seperti ini penting supaya masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi ikut terlibat dalam menjaga lingkungannya. Ketika masyarakat dilibatkan sejak awal, program akan lebih mudah dijalankan dan diterima. Harapannya, upaya ini bisa berjalan terus dan memberi manfaat nyata.” ujar Arif. Ia berharap program yang dirancang dapat berjalan secara berkelanjutan. Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat menjadi kunci utama.

Sementara itu, Pembina PPKSI KH. Misbahus Salam, M.Pd.I, menyampaikan pandangannya dalam diskusi tersebut. Ia menekankan pentingnya nilai moral dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, isu lingkungan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis. Kyai Misbah menilai bahwa keberlanjutan alam merupakan amanah yang harus dijaga. Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif masyarakat. “Menjaga alam itu bukan hanya urusan teknis, tapi juga tanggung jawab kita bersama. Kalau kesadaran ini tumbuh di masyarakat, upaya pelestarian lingkungan akan lebih kuat. Semua pihak perlu mengambil peran sesuai dengan kemampuannya.” ujar Kyai Misbah. Ia berharap program yang dirancang mampu memberikan manfaat jangka panjang. Menurutnya, pendekatan yang melibatkan masyarakat akan lebih efektif. Nilai-nilai sosial dan keagamaan dinilai dapat memperkuat komitmen tersebut.

Ali Purwanto, S.Hut., M.Sc dari Taman Nasional Meru Betiri Jember turut memberikan pandangannya. Ia menilai FOLU Net Sink sebagai langkah strategis dalam pengelolaan kawasan konservasi. Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat sangat relevan diterapkan di wilayah penyangga kawasan hutan. Ali menekankan pentingnya sinergi antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menyoroti peran ekowisata sebagai salah satu alternatif pengembangan. “Pengelolaan hutan harus bisa memberi manfaat bagi alam dan masyarakat sekaligus. Masyarakat di sekitar kawasan hutan perlu dilibatkan agar program berjalan dengan baik. Dengan begitu, keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan sosial bisa terjaga.” ujar Ali. Ia menilai program yang disampaikan memiliki potensi untuk dikembangkan. Pendekatan agroforestri dinilai dapat mendukung keberlanjutan ekosistem. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program.


Secara keseluruhan, kegiatan pemaparan dan diskusi FOLU Net Sink di Kementerian Kehutanan berjalan dengan baik. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan antara berbagai pihak. Isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi fokus utama pembahasan. Seluruh pihak sepakat bahwa pendekatan berkelanjutan perlu terus diperkuat. Kegiatan ini juga membuka ruang pengembangan program berbasis masyarakat. Penguatan kelembagaan lokal menjadi salah satu perhatian penting. Diharapkan program yang dirancang dapat memberikan dampak positif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di sektor kehutanan.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Ikuti berita kami

Masukkan email Anda dan klik Subscribe untuk update berita terbaru dari kami!

H I M

Jalan Cumi-Cumi Dusun Ampo
Dukuhmencek, Sukorambi
Jember

Phone: +62 812 4684 1187
Email: admin@habilisindonesiamadani.id

Lembaga

  • Habilis Rehabilitation Centre
  • Lembaga Bantuan Hukum
  • Habilis Tredpaction Centre
  • Madani Bisnis Centre
  • Jember Riset Development Centre

Media Sosial

© Copyright Habilis Indonesia Madani. All Rights Reserved
Designed by Team IT Habilis Indonesia Madani