- Berita
- Sosialisasi Edukasi tentang Kesehatan Mental ke Guru SMAN 1 Sukosari.
Sosialisasi Edukasi tentang Kesehatan Mental ke Guru SMAN 1 Sukosari.
Habilis, 30/01/2026 16:14 WIB
Bondowoso
– Selasa, 7 Januari 2026. SMAN 1 Sukosari, Bondowoso menggelar kegiatan
Edukasi Manajemen Stress bagi Civitas Akademik. Kegiatan ini dilaksanakan
sebagai upaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental di
lingkungan sekolah. Edukasi tersebut diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan.
Suasana kegiatan berlangsung tertib dan penuh perhatian dari para peserta.
Materi disampaikan oleh Arif, S.Sos., M.AP sebagai narasumber utama. Peserta
terlihat aktif menyimak penjelasan yang disampaikan. Kegiatan ini dirancang
agar peserta mampu mengenali stres yang dialami dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, peserta juga diajak memahami cara mengelola stres dengan tepat.
Edukasi ini dianggap penting karena tekanan kerja dan belajar semakin
meningkat. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap civitas akademik dapat lebih
siap menghadapi tekanan secara sehat.
Pada penyampaian materinya, Bapak Arif menjelaskan bahwa stres tidak selalu berdampak buruk. Ia menerangkan bahwa ada stres yang bersifat positif dan dapat memberi semangat dalam bekerja. Stres positif atau eustress dapat muncul saat seseorang mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Contohnya adalah semangat ketika mengikuti lomba atau menyiapkan tugas penting. Namun, Ia juga menekankan adanya stres negatif atau distress. Stres negatif dapat muncul akibat beban kerja yang berlebihan atau masalah keluarga. Selain itu, stres juga dibedakan menjadi stres yang terjadi secara tiba-tiba dan stres yang berlangsung lama. Stres yang terjadi mendadak biasanya muncul karena peristiwa mengejutkan. Sementara itu, stres yang berlangsung lama sering berkaitan dengan masalah ekonomi atau tekanan pekerjaan. Peserta diajak mengenali jenis stres yang sering mereka alami.
Dalam materinya juga menjelaskan berbagai reaksi yang dapat muncul ketika seseorang mengalami stres. Reaksi tersebut bisa berupa rasa cemas yang berlebihan. Selain itu, seseorang bisa menjadi mudah marah ketika berada dalam tekanan. Stres juga dapat menyebabkan sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar. Tidak sedikit orang yang kehilangan semangat ketika mengalami stres berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain. Stres dapat memicu konflik dengan rekan kerja maupun anggota keluarga. Kinerja juga bisa menurun karena pikiran tidak fokus. Kesalahan dalam mengambil keputusan dapat terjadi akibat tekanan yang dirasakan. Dalam beberapa kasus, seseorang memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa stres tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan sekitar.
Untuk menghadapi stres, Bapak Arif menyampaikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah melakukan pernapasan dalam ketika merasa panik atau tegang. Ia juga menyarankan untuk beristirahat sejenak setelah menghadapi tekanan pekerjaan. Berbicara dengan teman atau keluarga dapat membantu mengurangi beban pikiran. Menjauh sementara dari sumber masalah juga dapat membuat pikiran lebih tenang. Selain itu, pendekatan spiritual turut disarankan dalam mengelola stres. Kegiatan seperti berdoa atau refleksi diri dapat membantu menenangkan perasaan. Mengikuti kegiatan keagamaan atau kelompok pendukung juga dapat memberikan kekuatan mental. Kegiatan ini juga mengingatkan pentingnya rasa syukur dalam menghadapi tekanan hidup. Sikap bersyukur dapat membantu seseorang melihat masalah dari sisi yang lebih positif. Dengan cara ini, tekanan yang dirasakan dapat dikurangi secara perlahan.
Dalam materi manajemen stres, peserta diajak untuk mengenali penyebab utama stres yang mereka hadapi. Setelah itu, peserta diarahkan untuk menentukan strategi yang sesuai. Strategi tersebut dapat berupa mengatur waktu dengan lebih baik. Pembagian tugas juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan kerja. Teknik pernapasan dan relaksasi dianjurkan untuk menjaga ketenangan. Peserta juga dikenalkan pada pentingnya membuat prioritas pekerjaan. Evaluasi terhadap cara mengelola stres perlu dilakukan secara berkala. Jika strategi yang digunakan berhasil, maka dapat diterapkan secara terus-menerus. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi stres. Lingkungan kerja yang saling mendukung juga sangat membantu dalam mengurangi tekanan. Kerja sama di lingkungan sekolah menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana yang sehat.
Pada akhir kegiatan, Bapak Arif
mengajak seluruh civitas akademik untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Ia menjelaskan bahwa stres dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik, pikiran, dan
lingkungan sosial. Kurang tidur, beban kerja, dan konflik hubungan dapat
memperberat tekanan mental. Masa perubahan, seperti peralihan dari dunia
pendidikan ke dunia kerja, juga dapat memicu stres. Menurutnya, keseimbangan
antara pekerjaan dan kehidupan pribadi harus dijaga. “Stres itu wajar dialami,
tetapi jangan sampai dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik. kita perlu
mengenali kemampuan diri agar tidak memaksakan diri dalam menghadapi tuntutan.”
Ujarnya pada Selasa (07/01/2026). Kegiatan ini diharapkan dapat memberi
pemahaman baru bagi peserta. Dengan edukasi ini, civitas akademik SMAN 1
Sukosari diharapkan mampu menghadapi tekanan dengan lebih bijak dan seimbang.

Komentar (0)
Tinggalkan Komentar